Scroll untuk baca artikel

Gerbang SDN 1 Pengenjek Kembali Disegel, Ahli Waris Pasang Spanduk Klaim Lahan

×

Gerbang SDN 1 Pengenjek Kembali Disegel, Ahli Waris Pasang Spanduk Klaim Lahan

Share this article

Ikuti Kami di Google News

Dapatkan berita terbaru, tercepat, dan terpercaya dari Lombok Fokus langsung melalui Google News.

Baca di Google News

 

Lombok Tengah | Lombok Fokus – Sengketa lahan antara pihak ahli waris dan Pemerintah Daerah Lombok Tengah kembali memuncak. Pada Minggu malam (22/6/2025), gerbang SDN 1 Pengenjek, Kecamatan Jonggat, kembali disegel oleh pihak yang mengaku sebagai ahli waris dengan memasang pagar bambu dan spanduk besar bertuliskan klaim kepemilikan lahan.

IKLAN
Example 120x600

 

Dalam spanduk tersebut tertulis dengan jelas:

“TANAH INI MILIK AMAQ SAHMIN. LUAS 21 ARE (2.100 m²). DILARANG MEMANFAATKAN TANAH INI ATAU MENGGUNAKANNYA TANPA IZIN DARI AHLI WARIS – AMAQ SAHMIN.”

 

Pantauan di lokasi menunjukkan gerbang sekolah ditutup dengan batang bambu yang diikat menyilang, memperkuat kesan penyegelan. Akses utama ke halaman sekolah tertutup sepenuhnya, meski bagian lain sekolah tidak terdampak langsung.

 

Kepala SDN 1 Pengenjek, Hikmad, saat dikonfirmasi pada Senin (23/6), membenarkan aksi penyegelan tersebut. Ia menyampaikan bahwa saat ini kegiatan belajar mengajar memang sedang libur karena masih dalam masa penerimaan siswa baru.

 

“Gerbang sekolah kembali dipagari tadi malam. Sekarang memang kegiatan belajar sedang libur, tapi kami dalam masa penerimaan siswa baru. Kami tetap membuka akses dari sisi samping agar proses tetap berjalan,” ungkapnya.

 

Hikmad juga menegaskan bahwa pihak sekolah sudah sejak lama menyampaikan persoalan ini ke Dinas Pendidikan dan bagian aset Pemkab Lombok Tengah, namun belum ada solusi konkrit.

 

“Kami sudah lapor sejak bulan puasa, baik secara tertulis maupun lisan. Tapi belum ada titik temu sampai sekarang. Kalau dibiarkan berlarut, masyarakat bisa kehilangan kepercayaan,” katanya.

 

Ia berharap Pemda segera mengambil langkah tegas agar persoalan tidak terus meresahkan masyarakat dan mengganggu citra sekolah yang sudah lama berdiri di tengah Desa Pengenjek.

 

“Ini sekolah tertua di desa kami, jadi kami mohon agar pemerintah turun tangan serius. Jangan sampai siswa dan orang tua makin resah karena konflik ini,” tutupnya.

Example 120x600
Example 120x600