LombokFokus|Mataram — Kesadaran tenaga kesehatan atau nakes dalam melaporkan efek samping obat (ESO) dan Kejadian Tak Diinginkan (KTD), menjadi perhatian serius Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) di Mataram. Mengusung tema “Penguatan Peran Tenaga Kesehatan Dalam Pelaporan Farmakovigilans Untuk Perlindungan Pasien”, Rabu (12/3/2025), BBPOM menggelar kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Farmakovigilans yang terpusat di Auditorium BBPOM.
Farmakovigilans yakni kegiatan mendeteksi, menilai, memahami, dan mencegah efek samping atau masalah lain yang berkaitan dengan penggunaan obat. Dalam sambutannya, Kepala BBPOM Mataram, Yosef Dwi Irwan, menyoroti pentingnya laporan farmakovigilans, guna memastikan keamanan dan efektivitas obat setelah beredar di pasaran.
“Kita pernah belajar dari tragedi Thalidomide di tahun 1960-an. Obat ini awalnya digunakan untuk meredakan mual pada ibu hamil, tetapi justru menyebabkan ribuan bayi lahir dengan phocomelia, yaitu kondisi di mana tangan dan kaki tidak tumbuh sempurna. Ini contoh nyata betapa pentingnya pemantauan ketat terhadap obat,” jelas Yosef.
Meski saat ini pelaporan KTD dan ESO menjadi kewajiban bagi industri farmasi, bagi tenaga kesehatan masih bersifat sukarela. Namun, Yosef menegaskan jika nakes memegang peran penting, sebagai garda terdepan dalam memberikan layanan kesehatan yang aman.
“Di NTB, angka pelaporan KTD dan ESO masih sangat rendah, bahkan kurang dari 5% dari total fasilitas kesehatan yang ada. Harapan kami, melalui kegiatan ini, rekan-rekan nakes semakin sadar dan aktif melaporkan setiap kejadian yang ditemukan demi keselamatan pasien,” tandasnya.
e-MESO: Alat Lapor Praktis di Genggaman
Untuk mempermudah proses pelaporan, BBPOM memperkenalkan sistem e-MESO (Electronic Monitoring Efek Samping Obat), sebuah platform digital yang memudahkan tenaga kesehatan, untuk melaporkan ESO secara cepat dan akurat. Dua narasumber dihadirkan untuk memperdalam pemahaman peserta tentang sistem ini, yaitu Megrina Dian Agustin dari Direktorat Pengawasan Keamanan, Mutu, dan Ekspor Impor Obat Badan POM RI, serta Rachmatika Retno Saecaria dari RSJ Mutiara Sukma.
Keduanya menjelaskan secara rinci cara penggunaan e-MESO, mulai dari pendaftaran akun hingga proses pelaporan. Semakin banyak laporan yang masuk, semakin akurat pula BPOM dalam mendeteksi risiko obat dan mengambil langkah cepat untuk menjaga keamanan masyarakat.
“Lima sampai sepuluh menit yang rekan-rekan luangkan untuk melapor bisa menyelamatkan ribuan nyawa. Ini bukan sekadar tanggung jawab profesi, tapi juga kontribusi besar bagi bangsa dalam menjaga mutu dan keamanan obat yang beredar di Indonesia,” tegas Yosef.
Antusiasme Peserta dan Harapan ke Depan
Sepanjang acara, 45 peserta yang turut ambil bagian, baik secara luring dan mengikuti secara hybrid via Zoom, dari berbagai fasilitas kesehatan seperti Dinas Kesehatan, rumah sakit, puskesmas hingga klinik, terlihat antusias mengikuti sesi demi sesi.
Sementara untuk mengukur pemahaman, dilakukan pre dan post test, dimana pada akhirnya seluruh peserta dinyatakan lulus. Melalui kegiatan tersebut, BBPOM Mataram berharap tenaga kesehatan di NTB semakin tergerak untuk aktif melaporkan ESO dan KTD, demi pelayanan kesehatan yang lebih aman dan berkualitas.
Dengan peran aktif nakes dan dukungan sistem seperti e-MESO, keamanan penggunaan obat di Indonesia diharapkan terus meningkat. Yuk, bersama kita jaga keselamatan pasien dan pastikan setiap obat yang beredar benar-benar aman!(djr)


