AKU MASIH di sisi pagar rumah di pojok tenggara perempatan. Kulihat Arman agak menjauh, duduk di atas dinding riol. Kakinya menjuntai di saluran tak berair itu.
“Arman,” kataku mencelahi kebisuan. “Dulu, di halaman rumah kami ini,” aku menunjuk pekarangan di belakang punggungnya, “terpancang empat, mungkin lima, papan kampanye satu partai.”
“Partai apa?” tanya Arman menatapku.
“Tegak berdiri cuma dua hari,” sahutku tak hirau pertanyaannya. “Tiang dan papan kampanye partai itu dicabut, diangkat dari tanahpancangnya. Kemudian dilempar ke atas truk.”
Kelumit ingatanku tentang diringkusnya papan kampanye ini sungguh masih segar belaka. Saat itu aku sudah klas 5 SD. Setelah truk berlalu membawa papan kampanye, kusaksikan beberapa tetangga dan banyak orang tak kukenal datang bergegas. Lantas gerutuan marah bersahutan. Entah kepada siapa dituju. Makian, umpatan dan cacian berkelebatan saling tubruk pada suasana kerumunan.
Tidak berselang lama, muncul seorang yang semua dalam kerumunan mengenalnya. Ia Pak Abu Bedon, pedagang hasil bumi dan ternak. Ayah Rais, temanku seklas. Terkaya dari enam orang kaya di kabupaten ini—lima lainnya pun adalah adik kandung dan para sepupunya. Dari mobilnya, menurutku itu mobil terbaik di kota kami—bahkan lebih baik dari mobil bupati, ia turun dengan mata yg tampak merah. Air mukanya muram sangat. Lilitan sarungnya pun tidak kencang dan tak beraturan hingga ujung bawah lingkar sarungnya tinggi dan rendah. Tampak ia datang dengan terburu-buru.
“Datupa rawi lako doho re… La nga’i danta mena ba ina na.” Dari bibirnya yang dower terlontar umpatan murka sekasar yang bisa memuaskannya.
Kepada siapa orang-orang tua itu melontarkan serapahnya? Yang bisa kuduga ialah kepada para peringkus papan kampanye. Tetapi aku sungguh tak bisa menebak siapa para peringkus. Dan untuk apa mereka melenyapkan papan kampanye. Aku juga tidak tahu kelanjutan setelah amarah yang memuncak itu. Kerumunan itu beranjak bubar oleh gema azan maghrib.
Di pojok baratdaya dari perempatan adalah masjid raya kota ini.Menempati satu blok seluas dua kali lapangan bola. Ketika azan senja itu menggema, kerumunan orang dengan amarah tadi beriringan menuju masjid.
Di masjid itukah amarah melanjut? Atau mereda?


