Penulis : Sarifa Padilla Mahasiswa UIN MATARAM
Pada 29 mei 1453, pasukan muslim di bawah pimpinan Sultan Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II berhasil menjebol pertahanan Byzantium. Konstantinopel telah jatuh. Penduduk kota berbondong-bondong berkumpul di Hagia Sophia . Sultan Muhammad II memberilogo sindonews home hikmahMenegakkan Akidah Islam: Belajar dari Sultan Muhammad Al-FatihMiftah H. YusufpatiKamis, 16 Juli 2020 – 13:14 WIB Menegakkan Akidah Islam PADA 29 Mei 1453, pasukan muslim di bawah pimpinan Sultan Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II berhasil menjebol pertahanan Byzantium. Konstantinopel telah jatuh. Penduduk kota berbondong-bondong berkumpul di Hagia Sophia . Sultan Muhammad II memberi perlindungan kepada semua penduduk, siapapun, baik Islam, Hagia Sophia pun akhirnya dijadikan masjid dan gereja-gereja lain tetap sebagaimana fungsinya bagi penganutnya. Toleransi tetap ditegakkan, siapa pun boleh tinggal dan mencari nafkah di kota tersebut. Sultan kemudian membangun kembali kota, membangun sekolah, terutama sekolah untuk kepentingan administratif kota, secara gratis, siapa pun boleh belajar. Tak ada perbedaan terhadap agama, membangun pasar, membangun perumahan. Bahkan rumah diberikan gratis kepada para pendatang yang bersedia tinggal dan mencari nafkah di reruntuhan kota Byzantium tersebut.Hingga akhirnya kota tersebut diubah menjadi Islambul yang belakangan berubah menjadi Istanbul.
Sebagai catatan, bahwa sebelum menggempur Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih mengirim utusan kepada Kaisar Byzantium terlebih dahulu. Beliau meminta agar kaisar tunduk di bawah kekuasaan Islam secara damai. Muhammad Said Mursi dalam Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah menyebutkan “Al-Fatih mengirimkan utusan kepada Kaisar Romawi agar mau menyerah, tetapi dia menolak. Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah mengungkap seruan Muhammad Al-Fatih agar Kaisar Byzantium menyerahkan kota Konstantinopel secara damai sebagai berikut:
“Hendaklah kaisar kalian menyerahkan kota Konstantinopel kepada saya. Dan saya bersumpah, tentara saya tidak akan melakukan tindakan jahat apapun pada kalian, atas jiwa dan harta kalian. Barang siapa yang ingin tetap tinggal di kota ini, maka tetaplah dia tinggal dengan damai dan aman. Dan barang siapa yang ingin meningggalkannya, maka tinggalkanlah dengan aman dan damai pula.”Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridlaan (Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (At-Taubah: 109)
Inilah perhatian setiap masyarakat yang berideologi, maka sudah semestinya jika masyarakat Islam menjadi cermin yang akan memproyeksikan akidah dan keimanannya serta pandangannya terhadap alam, manusia dan kehidupan dan pandangannya terhadap Sang Pencipta yang memberikan kehidupan.


