JAKARTA- Majelis Diskusi Mahasiswa Jakarta adakan webinar bertajuk “Urgensi Sertifikasi Dai ditengah Perkembangan Teknologi” Selasa (27/10/2020). Webinar yang dilaksanakan melalui platform Zoom tersebut menghadirkan Assoc Prof. Agus Pramono, Ph. D Tech, Gus Sholeh MZ, Ade Rina Farida, M.Si, dan Achmad Sholehan, M.Si sebagai narasumber.
Dalam penyampaiannya, Achmad Sholehan mengatakan “Pada hakikatnya berdakwah adalah mengajak jalan Tuhan, dengan menyampaikan sesuatu untuk bekal kita berjalan ke akhirat dengan ridho Allah SWT”.
Menurutnya Achmad, Seorang pendakwah harus memiliki kapasitas keilmuan dan juga adab yang baik. Di zaman sekarang ini banyak bermunculan orang-orang yang tiba-tiba menjadi pendakwah. Namun, kita harus waspada karena banyak pendakwah yang tidak sesuai dengan nilai-nilai islam.
“Dengan adanya sertifikasi dai maka, kita dapat melihat atau menjaring seseorang yang tidak kompeten dalam berdakwah. Yang lebih pokok bagi para dai di tengah perkembangan teknologi saat ini adalah, bagaimana dipentingkannya pakta integritas bahwa ketika berada dalam wilayan NKRI maka pengawasan untuk setia, patuh, dan tidak melanggar pancasila, UUD 1945 serta tidak akan memecah belah bangsa. Namun negara juga tidak berwewenang untuk menangkap pendakwah yang tidak memiliki sertifikasi, namun dapat diambil alih hukum pidana atau perdata tutur “Achmad.
Assoc Prof. Agus Pramono, Ph.D Tech mengatakan, “sertifikasi dai harus mengikuti perkembangan teknologi dan zaman. Sertifikasi dai ini sangat diperlukan, mengingat banyak orang yang keilmuannya dasar tidak dilakukan secara formal, tidak menggunakan adab dan akhlak serta bertentangan dengan nilai-nilai dakwah Saat ini banyak bermunculan firqoh baru, yang menjadi hambatan bagi kita “.
Pria yang juga ramah sebagai Rois Syuriah PCINU Federasi Rusia dan Eropa Utara tersebut menambahkan bahwa sertifikasi dai harus memiliki standar khusus, agar tidak terjadi kerusakan sistem atau kerusakan berfikir. Di dalam sertifikasi dai harus ada khusus yang menanganinya dan memiliki rujukan sanad serta bergerak dalam satu komando.
“Konsep keilmuan sebagai seorang pendakwah mencakup tiga nilai di antaranya pengetahuan ilmiah, pengetahuan yang diamalkan, dan pengamalan” ucap pria yang akrab disapa Gus Pram tersebut.
Senada dengan narasumber sebelumnya, Ade Rina Farida, M.Si menyatakan bahwa merupakan sertifikasi bentuk kelayakan penceramah untuk berdakwah. Standar kelayakan dai bersertifikasi mencakup pengetahuan agama, kebangsaan, sistematika dakwah yang mengarah pada ukhwah islamiyah.
Lebih lanjut, Sekretaris LP2M UIN Jakarta tersebut mengatakan “Dalam berdakwah lebih baik lagi jika menggunakan data, sehingga bisa menemukan problem solving di kehidupan masyarakat”.
“Ditengah perkembangan teknologi saat ini, jika dai sudah mengikuti sertifikasi maka mereka akan turut serta dalam menangkal hoax. Karena saat sertifikasi diberikan pelatihan dan pengarahan. Standar yang perlu dimiliki oleh seorang dai adalah kemampuan materi, visi keagamaan, kemampuan komunikasi, juga berdasarkan riset “ungkapnya.
Sementara itu, Gus Sholeh MZ menuturkan, “di era reformasi saat ini islam-islam sempalan banyak yang masuk di Indonesia. Maka urgensi sertifikasi dai sangat penting karena di Indonesia saat ini banyak bermunculan kelompok-kelompok anti nasional. Di mana kelompok ini sering memaksakan kehendak kehendak untuk mengubah ideologi Indonesia “.
Menurutnya sertifikasi dai merupakan suatu penghargaan dari pemerintah yang harus apresiasi kita. Indonesia merupakan negara yang penduduknya islami, namun pasca reformasi ini bukan lagi menjadi islam yang ramah, tetapi berubah menjadi islam yang penuh kebencian dan caci maki.
“Dengan sertifikasi dai ini maka paling tidak masjid-masjid di pemerintahan, kegiatan ceramahnya baik ceramah mingguan, bulanan, harian, khutbah jumat, hanya boleh diisi oleh penceramah yang bersertifikasi. Di dalam sertifikat yang dituliskan mazhabnya yang jelas, kemudian penerapan ini dievaluasi apakah benar -benar efektif untuk digunakan “Ungkap Sholeh.
“Negara indonesia saat ini hancur bukan karena serangan dari luar negeri, namun kerana pendakwah yang saling mencaci maki” tegasnya.
Webinar yang dimoderatori oleh Ruzi Setiawan, SE tersebut dimulai pukul 14.00. Setelah adanya pemaparan dari narasumber webinar kemudian diskusi interaktif antara narasumber dan peserta webinar.
www.lombokfokus.com


