Desa sade yang terletak di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, merupakan salah satu desa adat suku Sasak yang masih mempertahankan keaslian budaya dan arsitektur tradisionalnya. Rumah adat di Desa Sade ini tidak hanya sekedar tempat tinggal semata, tetapi juga sebagai simbol budaya, filosofi, dan identitas sosial masyarakat Sasak. Salah satu contoh yang memiliki makna filosofis adalah arah rumah yang harus menghadap timur dan barat, dimana arah matahari terbit melambangkan awal kehidupan, pencerahan, dan harapan, sedangkan arah matahari tenggelam melambangkan akhir kehidupan atau kematian. Artinya arah rumah Bale Tani ini memiliki makna filosofi hidup dan mati, awal dan akhir.
Rumah adat di Desa Sade terdiri dari beberapa tipe bangunan dengan fungsi berbeda. Yang paling utama adalah Bale Tani, rumah berukuran sekitar 5×7 meter yang menjadi tempat tinggal masyarakat petani. Selain itu, adala Bale Kodong sebagai tempat tinggal sementara pengantin baru, dan Bale Bontar yang diperuntukan bagi pejabat desa. Rumah adat juga dilengkapi dengan Bale Lumbung Padi, tempat penyimpanan hasil panen yang sekaligus menjadi simbol kemakmuran masyarakat Sasak. Ada pula bangunan panggung seperti Berugak Sake 4 (pat/papat) dan Berugak Sake 6 (nem/enem), yang berfungsi sebagai tempat berkumpul atau istirahat, terutama bagi anak laki-laki.
Atap rumah adat Desa Sade berbentuk miring menyerupai gunung, yang berfungsi agar air hujan mudah mengalir dan menjaga rumah tetap kering. Atap ini terbuat dari alang-alang atau yang biasa disebut rik, yang dapat menjaga suhu dalam rumah tetap sejuk saat panas dan hangat saat hujan. Bentuk atap yang meninggi ke atas melambangkan hubungan manusia dengan alam dan leluhur. Atap di bagian depan dibuat rendah sehingga ketika masuk ke dalam Bale Tani, orang-orang harus menundukkan kepala, hal ini melambangkan sikap pemilik rumah dan kerendahan hati terhadap pemilik rumah, yang di mana hal ini mengajarkan nilai sopan santun serta penghormatan dalam kehidupan sosial masyarakat Sasak.
Dinding rumah berasal dari beragam anyaman bambu atau yang disebut dengan tereng, mulai dari tereng biasa, tereng borek, dan tali tereng, sedangkan lantainya terbuat dari campuran tanah liat, sekam padi, dan kotoran kerbau yang masih baru. Campuran ini tidak hanya membuat lantai menjadi keras dan tahan lama seperti semen, tetapi juga dipercaya dapat mengusir serangga serta melindungi penghuni rumah dari pengaruh buruk. Adapun tiang penyangga rumah berjumlah 13, hal ini merefleksikan nilai-nilai keagamaan seperti rukun sholat yang juga berjumlah 13, sehingga rumah adat tidak hanya sebagai tempat tinggal tetapi juga simbol keyakinan masyarakat Sasak. Tiang ini terbuat dari kayu kukuh seperti timus, lipin, dan akasia, yang ditanam lebih dalam kebawah layaknya akar pohon sebagai pasak. Struktur ini membuat rumah tahan terhadap gempa bumi, hal ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat Sasak dalam menghadapi bencana alam. Rumah adat Desa Sade hanya memiliki satu pintu yang menghadap ke depan, hal ini berfungsi agar anak perempuan yang akan di culik dapat di jaga oleh orang tuanya dan tidak kabur melalui jendela atau pintu lain.
Rumah Bale Tani terbagi menjadi dua bagian utama, yakni Bale Luar (Sesangkok) yang dihuni orang tua sebagai ruang tidur dan ruang tamu, serta Bale Dalem yang digunakan sebagai dapur sekaligus dihuni oleh anak perempuan sebagai ruang tidur dan tempat melahirkan yang melambangkan menjaga marwah dan kehormatan perempuan. Adapula tangga penghubung antara Bale Luar dan Bale Dalem berjumlah tiga, melambangkan tahapan kehidupan manusia, yakni lahir, berkembang, dan mati. Keunikan lain adalah bahwa Bale Luar dan Bale Dalem tidak dipisahkan oleh sekat, hal ini melambangkan kesetaraan dan saling menghormati antaranggota keluarga.
Bale Tani menjadi pusat pelaksanaan ritual adat seperti pernikahan dan kelahiran. Selain itu, pembangunan Bale Tani tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Masyarakat Desa Sade wajib mengikuti tahapan ritual yang diawali dengan pencarian dan pemilihan bahan bangunan yang harus mendapat persetujuan tokoh adat dan sesepuh desa. Pembangunan ini dilakukan secara gotong royong, hal ini melambangkan kerja sama dan solidaritas antarwarga. Saat melakukan renovasi, bahan yang ingin diganti juga harus disetujui dan disertai ritual penyembelihan ayam, sapi atau kerbau sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan dan leluhur, sekaligus penolak bala agar rumah tetap aman dan diberkahi.
Seiring perkembangan zaman, Desa Sade tidak menolak modernisasi, tetapi keaslian Bale Tani tetap dijaga. Sekitar 30% dari 150 Bale Tani telah menggunakan lantai semen, tetapi lantai tersebut tetap harus dilumuri kotoran kerbau tiga hari sebelum ritual adat berlangsung. Sementara itu, Bale Tani yang masih asli menggunakan lantai dari tanah liat yang rutin dilumuri kotoran kerbau setiap minggu. Tradisi pelumuran ini tidak hanya memperkuat lantai secara fisik, tetapi juga memiliki makna simbolik sebagai penolak bala dan pelindung dari bencana.
Pada dasarnya, Bale Tani dibangun dengan bahan-bahan alami seperti bambu, alang-alang, dan tanah liat, yang membuatnya menjadi ramah lingkungan dan tahan gempa. Desain rumah yang sederhana namun kokoh ini mencerminkan kearifan lokal dalam menghadapi kondisi alam dan kebutuhan sosial masyarakat. Keunikan lainnya dari rumah adat Bale Tani ini ternyata diwariskan kepada anak laki-laki bungsu dalam keluarga, sementara anak laki-laki sulung biasanya membangun rumah baru jika memiliki biaya yang memungkinkan.
Selain keunikan dan filosofi rumah adat Desa Sade, dikatakan bahwa perempuan memegang peran penting dalam pelestarian budaya melalui keterampilan menenun dan pendidikan nilai-nilai tradisional kepada generasi berikutnya. Selain itu, kehadiran parawisata dapat membawa dampak positif bagi masyarakat Sade, seperti peningkatan ekonomi melalui kerajian dan jasa pemandu wisata. Pemerintah juga mendukung pelestarian Bale Tani melalui dana revitalisasi, tanpa mengubah keaslian rumah adat tersebut. Oleh karena itu, masyarakat Sasak berupaya menjaga tradisi dan nilai budaya di tengah arus modernisasi dan kebutuhan wisatawan.
Penulis : Gefira Ananda Thahira Kalapati, saat ini merupakan mahasiswi aktif di Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Mataram. Saya lahir di Tangerang dan besar di Lombok. Kini, saya sedang menjalani semester dua dengan fokus memperdalam pemahaman tentang berbagai aspek dunia internasional, seperti sejarah, politik, budaya dan sosial.


