Peran Guru Dalam Membentu Akhlak dan Moral Pelajar

  • Bagikan

Peran Guru Dalam Membentu Akhlak dan Moral Pelajar

Penulis: Siti Nurhaliza
Lombokfokus.com | Melaksanakannya DalamPengajaran Dan Pembelajaran Di Bilik Darjah Pemasalahan akhlak masa kini menjadi semakin ketara di kalangan pelajar sekolah. Sering terjadi pelajar terlibat dengan dadah, peras ugut, lepak atau berkeliaran di tempat hiburan dan pasaraya. Sekolah memainkan peranan yang penting selepas keluarga di dalam pembentukan akhlak dan ini jelas termaktub di dalam Falsafah Pendidikan Negara dan melalui penerapan nilai dalam KBSM.Sejak kebelakangan ini, apabila orang berbicara dan mengaitkan soal pendidikan, maka tidak terlepas isu moral di kalangan pelajar atau remaja dibicarakan sebagai satu topik besar. Kalau pada suatu masa dahulu, zaman sebelum perluasan pengaruh media komunikasi, terutama sebelum meluasnya pengaruh media elektronik, sedikit sangat orang yang berbicara dan mempersoal tentang moral.

Latar belakang Isu Sistem Pendidikan Negara sekarang boleh dikatakan terbaik dan mungkin ia diakui oleh dunia. Walupun wujud sistem dualisme dalam pendidikan kita namun kelihatan semacam kesterpaduan antara ilmu naqliah dan aqliah. Sistem pendidikan masih menekankan pendidkan moral, nailai dan aqidah melalui Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Moral dan penerapan nilai-nilai murni dalam pengajaran. Untuk menjayakan pendidikan moral dan nilai dalam sistem pendidikan negara kita,setiap orang harus berusaha ke arah memperbaiki kerosakan dan keruntuhan akhlak yang menjadi-jadi,di samping terus menerapkan nilai-nilai akhlak yang baik selaras dengan tuntutan agama.

Isu keruntuhan akhlak telah menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat sekaramg. Isu ini telah dibincangkan di semua peringkat masyarakat, dari kedai kopi, kaki-kaki lima, sekolah, IPT hatta di Dewan Negeri dan Parlemen. Ini menunjukkan betapa seriusnya masalah keruntuhan akhlak dalam masyarakat serta betapa pentingnya masalah keruntuhan ini ditangani dengan sebaik-naiknya agar ia tidak menjadi lebih parah.

READ  MEMBANGUN AHLAK GENERASI RABBANI PADA ANAK SD/MI

Keruntuhan akhlak telah berlaku di kalangan pemimpin peringkat atasan dalam bentuk penyalahgunaan kuasa, suap, minum alkohol dan befoya-foya.

Gejala ini juga terdapatdi kalangan remaja seperti pergaulan bebas, lari dari rumah, dan lain-lain lagi. Selain itu, keruntuhan moral di kalangan masyarakat dapat juga dilihat dalam bentuk putusnya hubungan kekeluargaan, hilangnya rasa kasih sayang serta benci membenci terutama di kalangan masyarakat Islam.

Pengertian akhlak , menurut bahasa akhlak berasal dari bahasa Arab dari kata Khuluq (Khuluqun), yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Sedangkan secara istilah akhlak berarti: ilmu yang menentukan batas antara yang baik dan yang buruk, antara yang terbaik dengan yang tercela, tentang perbuatan manusia, lahir dan batin. Secara umum teori yang digunakan sebagai acuan mengukur perkembangan moral anak adalah teori piaget dan kolhberg, keduanya sama- sama membagi fase
perkembangan moral anak menjadi tiga fase. Piaget mengklasifikasikan menjadi: 1. Premoral, tahapan dimana anak belum mengenal aturan atau moral, 2. Moral realism anak mengenal, aturan berdasar otoritas dari pihak lain, 3. Moral relativism anak mengenal aturan tanpa otoritas orang lain melainkan pertimbangan diri sendiri.

Tugas dan fungsi Guru
Mengenai tugas guru, ahli-ahli pendidikan Islam (juga ahli pendidikan barat) telah sepakat bahwa tugas guru ialah mendidik. Mendidik adalah tugas yang amat luas. Medidik itu sebagian dilakukan dalam bentuk mengajar, sebagian dalam bentuk memberikan dorongan, memuji, menghukum, memberi contoh, membiasakan, dan lain-lain. Dalam pendidikan disekolah, tugas guru sebagian besar adalah mendidik dengan cara mengajar.

Lebih dari itu, pendidik tidak hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pelajaran kepada murid, tetapi juga membentuk kepribadian peserta didik, yang pada akhirnya peserta didik memiliki kepribadian yang utama. Lebih-lebih pendidik agama, ia mempunyai tanggung jawab yang lebih berat dibanding dengan pendidik pada umumnya karena selain bertanggung jawab terhadap pembentukan pribadi anak yang sesuai dengan ajaran Islam, ia juga bertanggung jawab terhadap Allah SWT. Yang tak kalah pentingnya adalah guru-guru agama hendaknya menjadi teladan dalam segala keadaan. Karena keadaan guru itu akan selalu dijadikan cermin bagi peserta didiknya.

READ  Temu Nasional Permikomnas, Ketum: Intoleran & Radikalisme Harus Dicegah Melalui Media Sosial

Berdasarkan uraian di atas, guru baik dalam pandangan Pendidikan Islam maupun Ki Hajar Dewantara, merupakan pribadi yang ideal baik secara personal maupun sosial terlebih lagi secara ekademik dan profesional. Guru punya kedudukan istimewa dalam dunia pendidikan bahkan dalam perspektif Pendidikan Islam kedudukanya sangat tinggi sehingga tintanya dianggap lebih tinggi nilainya dari darah para syahid.

Guru adalah mentor, fasilitator juga mursyid bagi para muridnya sehingga harus membekali diri dengan kemampuan dan kecakapan serta berbagai kompetensi, baik personal, sosial, pedagogik, maupun profesional. Kompetensi profesional guru merupakan cerminan diri guru dalam bersikap serta berperilaku sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan profesinya yang sesuai dengan norma agama maupun nilai moral yang berlaku. Dalam pendidikan anak usia dini kompetensi kepribadian berarti kemampuan bertindak sesuai psikologis perkembangan dan kebutuhan anak, serta mencerminkan diri sebagai teladan yang baik dalam perbuatan maupun tutur katanya. Kompetensi profesional berarti guru harus mampu memahami tahapan perkembangan anak yang dalam hal ini adalah perkembangan moral anak, sehingga mampu memberikan rangsangan, perlindungan pengasuhan dan kemampuan bekerjasama dengan orang tua dalam mendorong dan memahami kesinambungan perkembangan anak. Kemampuan pedagogik, merupakan kemampuan guru dalam menyusun dan merencanakan maupun melaksanakan progam pembelajaran dan pendidikan anak, yang di wujudkan dalam rencana kegiatan harian, semester maupun tahunan. Kompetensi sosial meliputi kemampuan mambaca situasi masyarakat serta berkomunikasi dengan anak, orang tua maupun lingkungan sekitar.

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Berlangganan    Yes No thanks