Pembentukan Karakter Siswa Melalui Pembelajaran Aqidah Akhlak

  • Bagikan

OPINI– Pendidikan merupakan usaha membina kepribadian dan kemajuan manusia baik fisik maupun moral, sehingga pendidikan memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia khususnya menjadikan manusia yang lebih bermanfaat dan berkualitas. Melalui pendidikan maka suatu bangsa dapat berdiri kokoh di tengah-tengah globalisasi dunia. Dengan demikian salah satu cara untuk memajukan suatu bangsa, maka diperlukan orang-orang yang memiliki karakter agar tercipta suatu bangsa yang maju dan berkembang.

Dalam pendidikan, pembentukan karakter merupakan salah satu faktor penunjang suatu usaha yang membawa anak didik ke arah pengalaman belajar sehingga dapat menimbulkan tenaga dan aktivitas siswa serta memusatkan perhatian siswa pada waktu tertentu untuk mencapai suatu tujuan. Pembentukan karakter siswa sangat perlu di terapkan dikalangan sekolah.

Pembelajaran akidah akhlak merupakan salah satu bagian dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik agar lebih mengenal, menghayati, dan mengimani Allah SWT, serta merealisasikan dalam perilaku akhlak mulia dalam pengamalan dan pembiasaan.

Tujuan pembelajaran akidah akhlak menjadikan peserta didik memiliki budi pekerti, tingkah laku dan adat istiadat yang baik sesuai ajaran Islam serta menjadikan peserta didik berkhlak mulia dan terhindar dari perbuatan tercela. Dan tujuan pembelajaran akidah akhlak adalah menjadikan siswa berperilaku terpuji dan menghindari perilaku tercela serta tanggungjawab dalam segala hal”.

 

Dalam dunia pendidikan semua mengetahui bahwa tugas pendidik bukan hanya mengajar dan memberi ilmu pengetahuan saja kepada peserta didik tetapi lebih dari itu yakni membangun karakter peserta didik sehingga tercapailah kepribadian yang berakhlakul karimah. Masnur muslich berpendapat pendidikan juga merupakan proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat menjadi beradab.

READ  Belajar Akidah Akhlak Dalam Membentuk Karakter Generasi Alfa

Karakter berasal dari bahasa latin kharakter, kharassein, Kharax, dalam bahasa inggris yaitu, “charakter” dan dari bahasa Indonesia “karakter”, Yunani “Character”. karakter adalah ciri khas seseorang dalam berperilaku yang membedakan dirinya dengan orang lain. Pembentukan karakter merupakan upaya seseorang untuk menjadikan individu berkarakter, baik dari keluarga, sekolah atau dari diri sendiri.

Fungsi pembentukan karakter adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik untuk menjadi individu yang berperilaku baik, tanggung jawab dan mengembangkan peserta didik lebih bermartabat.

Pembentukan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong dan berjiwa patriotik. Pembentukan karakter yang baik, akan menghasilkan perilaku individu yang baik pula. Pribadi yang selaras dan seimbang, serta dapat mempertanggungjawabkan segala tindakan yang dilakukan. Dan tindakan itu diharapkan mampu membawa individu ke arah yang lebih baik dan kemajuan.  Karakter atau kepribadian seseorang hanya diukur dengan apa yang dia lakukan berdasarkan tindakan sadarnya. Dengan demikian, yang harus kita perhatikan adalah faktor-faktor yang mempengaruhi tindakan sadar tersebut. Karakter tidak akan dapat berjalan tanpa adanya faktor didalamnya.

Secara umum faktor-faktor tersebut terbagi dalam dua kelompok yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dalam pembentukan karakter adalah:

  1. Insting Biologis (dorongan biologis) seperti makan, minum dan hubungan biologis. Karakter seseorang sangat terlihat dari cara dia memenuhi kebutuhan atau instink biologis ini. Contohnya adalah sifat berlebihan dalam makan dan minum akan mendorong pelakunya bersifat rakus/ tamak.
  2. Kebutuhan psikologis seperti kebutuhan akan rasa aman, penghargaan, penerimaan dan aktualisasi diri. Seperti orang yang berlebihan dalam memenuhi rasa aman akan melahirkan karakter penakut, orang yang berlebihan dalam memenuhi kebutuhan penghargaan akan melahirkan karakter sombong/angkuh dan lain-lain.
  3. Kebutuhan pemikiran, yaitu kumpulan informasi yang membentuk cara berfikir seseorang seperti isme, mitos, agama yang masuk ke dalam benak seseorang akan mempengaruhi cara berfikirnya yang selanjutnya mempengaruhi karakter dan perilakunya.
READ  Peran Guru Dalam Membentu Akhlak dan Moral Pelajar

Sedangkan faktor eksternal dalam pembentukan karakter adalah:

  • Lingkungan Keluarga. Nilai-nilai yang berkembang dalam keluarga, kecenderungan-kecenderungan umum serta pola sikap kedua orang tua terhadap anak akan sangat mempengaruhi perilaku dalam semua tahap pertumbuhannya. Sikap otoritatif yang berlebihan akan menyebabkan anak menjadi minder dan tidak percaya diri.
  • Lingkungan Sosial. Demikian pula nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat dan membentuk piransi sistem sosial, ekonomi, dan politiknya serta mengarahkan perilaku umum mereka. Yang kemudian kita sebut dengan budaya. Anak yang tumbuh di tengah lingkungan masyarakat yang menghargai nilai waktu, biasanya akan menjadi disiplin.
  • Lingkungan pendidikan. Institusi pendidikan normal yang sekarang mengambil begitu banyak waktu pertumbuhan setiap orang, dan institusi pendidikan informal seperti media massa dan masjid, akan mempengaruhi perilaku seseorang sesuai dengan nilai-nilai dan kecenderungan-kecenderungan yang berkembang dalam lingkungan tersebut. Orientasi pada sistematika dan akurasi pada pendidikan formal membuat orang bersikap hati-hati, teratur, dan jujur. Sementara nilai-nilai konsumerisme yang berkembang lewat media massa yang telah menjadi corong industri membuat orang menjadi konsumtif dan hedonis.

 

Dari uraian faktor-faktor di atas, telah jelas sekali bahwa memang dalam sebuah karakter tidak dapat tumbuh begitu saja, ada banyak faktor yang melatarbelakangi adanya pembentukan karakter tersebut. Faktor Internal yakni yang berasal dari diri sendiri, misalnya cara makan, cara berfikir, dan lain-lain. Faktor yang tidak kalah pentingnya yaitu faktor keluarga, faktor tambahan yang ikut membantu sebuah karakter anak terbentuk.

Pendidik atau guru adalah aktor penting kemajuan peradaban bangsa . Dialah yang diharapkan mampu membentuk kepribadian, karakter, moralitas, dan kapabilitas intelektual generasi muda bangsa. Hakikatnya, berawal dari gurulah seorang murid mengenal ilmu, nilai, etika, moral, semangat, dan dunia luar yang masih asing baginya.

READ  PENTINGNYA PENDIDIKAN KARAKTER BAGI ANAK

Oleh karena itu, seorang guru tidak cukup jika hanya sekadar melakukan transfer of knowledge (memindahkan ilmu pengetahuan) saja, tapi juga harus melakukan transfer of value (memindahkan nilai) kepada anak didiknya.

Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas no. 20 tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.

Dalam pembelajaran Aqidah Akhlak, pada dasarnya telah terdapat rumusan pendidikan karakter, yakni dengan istilah pembentukan budi pekerti atau akhlak yang mulia. Pembentukan budi pekerti/akhlak yang mulia adalah tujuan utama dari pendidikan Islam. Tujuan pendidikan Islam pada umumnya adalah membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah dan berakhlak mulia (akhlakul karimah). Manusia yang bertaqwa adalah manusia yang dapat menjalankan ajaran Islam secara kaffah sehingga tercermin dari dalam dirinya ketinggian akhlak yang merupakan bekal hidup di dunia guna mencapai keberhasilan akhirat.

Hidayatul khildah

Penulis: Hidayatul khildah

Mahasiswa UIN Mataram, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan(FTK), Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah(PGMI)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Berlangganan    Yes No thanks