Abdul Arsyad : Tak Mau Terima Perbedaan Pangkal Munculnya Faham Radikal

  • Bagikan

DOMPU | Pelaksaan sholat Jum’at berbeda dari biasa di Masjid Miftahul Jannah, di Desa O’o Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, (21/2). Biasanya sholat jumat diisi dengan pengajian atau ceramah. Namun di Desa O’o ada deklarasi tolak radikalisme.

Warga berduyun-duyun datangi masjid tidak hanya melaksanakan ibadah Jum’at rutin saja. Namun, mengikuti pengajian dan ceramaah dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Warga juga berkumpul guna mendeklarasikan semangat persatuan dan menolak segala bentuk tindakan atau faham radikal.

“Dulu Dusun O’o dikenal sebagai tempat berkembangnya faham radikal. Namun, seiring dengan kesadaran masyarakat serta majunya informasi, kondisi itu berubah. Tak ada gesekan dan tidak ada lagi faham radikal atau tindakan intoleransi lainnya,” kata, Sekdes O’o yang juga ketua Khilafatul Muslimin Desa O’o Ismail Aidin,S.Pdi, dalam ceramahnya.

Ismail menegaskan, warga kini memiliki kesadaran tinggi memahami arti dalam menegakkan aqidah dan perbedaan beragama. Karena itulah, warga menjuluki desa O’o sebagai desa berkah.

Ketua MUI Arsyad Abdullah dalam cermah agamanya bertajuk menolak segala bentuk radikalisme dan intoleran dan terorisme, menegaskan bahwa munculnya faham radikal lebih disebabkan karena masyarakat tidak mau menerima perbedaan.

Ini kata dia, merupakan cara pandang yang salah. Padahal perbedaan itu sunnatullah dan karunia, jika saling menghargai dan menghormati, maka tidak akan ada intoleransi dan radikalisme.

“Marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan, silahkan yang bekerja sebagai petani agar menjadi petani yg baik, pedagang menjadi pedagang yg baik. Dunia ibarat tempat bercocok tanam dan semua ada pertanggung jawabannya,” imbuhnya.

Suasana pengajian dan ibadah Jum’at semakin semarak dan riuh ketika MUI setempat didampingi seluruh tokoh masyarakat dan agama mendeklrasikan pernyataan sikap bersama yang berisi :

“KAMI MASYARAKAT DESA OO YG BERTAQWA DAN BERBUDAYA, MENOLAK SEGALA BENTUK FAHAM RADIKAISME, INTOLERANSI DAN TERORISME YANG DAPAT MENGGANGGU KETUKUNAN BERAGAMA, BERMASYARAKAT BERBANGSA DAN BERNEGARA”.

Pesan dari masyarakat O’o ini bisa dimaknai sebagai pesan bersama dari Dompu untuk NTB dan NTB untuk Indonesia. Setidaknya 250 jamaah yang hadir dari berbagai elemen siang itu bergandengan tangan untuk menjaga dan merawat Islam dalam bingkai Pancasila dan NKRI.

www.lombokfokus.com
READ  Bupati Lombok Utara, Ramadhan Dapat Menggembleng dan Mendidik ASN
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Berlangganan    Yes No thanks